Agama dan Kehidupan Manusia
A. Pengertian
Agama adalah sistem yang menghubungkan manusia Kepada Tuhan
Yang Mahakuasa atau mengatur kepercayaan dan peribadatan Kepada Tuhan Yang
Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan budaya, dan pandangan dunia
yang menghubungkan manusia dengan tatana kehidupan. Selain
daripada itu agama juga memberi isyarat kepada manusia dan alam bahwa ada Zat
yang lebih unggul, Zat Yang Maha Segala-galanya, yang disitu manusia perlu
bersandar kepada Dia melalui medium agama. Dengan kata lain perlu bersandar dan
berpasrah (tawakal) kepada Dia melalui agama karena agama menjadi tempat bagi
kita untuk mengadu dan berkomunikasi dengan Tuhan. Kepasrahan kita kepada Tuhan
didasarkan pada suatu ajaran bahwa manusia hanya bisa berusaha, Tuhan yang
menentukan.
Kehidupan manusia
adalah satu rentang proses panjang. Dalam proses tersebut tersebut terjadi
perkembangan-perkembangan segenap potensi yang ada, baik fisik, rohani maupun
psikis, untuk menuju satu tahap tertentu. Tujuan hidup menurut para ahli adalah proses
menetapkan identitas diri yang dimiliki seseorang. Dengan kata lain, kita bisa
mengatakan bahwa seseorang yang memiliki tujuan hidup adalah mereka yang memiliki identitas diri yang
kuat dalam menjalani kehidupan sehari-hari,
sedangkan makna kehidupan adalah
persoalan filsafat dan spiritual yang berkaitan dengan keutamaan kehidupan atau keberadaan secara
umum.
Manusia memerlukan
agama untuk membantu dan memberikan pencerahan spiritual kepada diri nya,
karena pada dasarnya manusia memiliki keterbatasan pengetahuan dalam banyak
hal, baik mengenai sesuatu yang tampak maupun yang gaib, dan juga keterbatasan
dalam memprediksi apa yang akan terjadi pada diri nya dan orang lain, dan
sebagainya. Manusia membutuhkan agama tidak sekedar untuk kebaikan diri nya di
hadapan Tuhan saja, melainkan juga untuk membantu dirinya dalam menghadapi
bermacam-macam problema yang kadang-kadang tidak dapat dipahami nya. Di sinilah
manusia diisyaratkan oleh diri dan alam nya bahwa Zat yang lebih unggul dari
diri nya, Yang Maha Segala-galanya, seperti yang dijelaskan oleh para
antropolog bahwa agama merupakan respons terhadap kebutuhan untuk mengatasi
kegagalan yang timbul akibat ketidakmampuan manusia untuk memahami kejadian-kejadian
atau peristiwwa-peristiwa yang rupa-rupa nya tidak dapat diketahui dengan
tepat.
B. Fungsi
Agama dalam Kehidupan Manusia
Agama mempunyai peranan penting dalam mengatur/mengorganisasikan dan mengarahkan kehidupan sosial. Agama juga menolong menjaga
norma-norma sosial dan kontrol sosial. Ia mensosialisasikan individu dan
melakukan kontrol baik terhadap individu
maupun kelompok dengan berbagai cara. Berikut beberapa fungsi agama dalam
kehidupan manusia :
a. Sebagai Pembimbing Dalam Hidup, Pengendali utama
kehidupan manusia adalah kepribadiannya yang mencakup segala unsurepengalaman
pendidikan dan keyakinan yang didapatnya sejak kecil. Apabila dalam pertumbuhan
seseorang terbentuk suatu kepribadian yang harmonis, di mana segala unsur
pokoknya terdiri dari pengalaman yang menentramkan jiwa maka dalam menghadapi
dorongan baik yang bersifat biologis ataupun rohani dan sosial akan mampu
menghadapi dengan tenang
b. Penolong Dalam Kesukaran, Orang yang kurang yakin
akan agamanya (lemah imannya) akan menghadapi cobaan/kesulitan dalam hidup
dengan pesimis, bahkan cenderung menyesali hidup dengan berlebihan dan
menyalahkan semua orang. Beda halnya dengan orang yang beragama dan teguh
imannya, orang yang seperti ini akan menerima setiap cobaan dengan lapang dada.
Dengan keyakinan bahwa setiap cobaan yang menimpa dirinya merupakan ujian dari
tuhan (Allah) yang harus dihadapi dengan kesabaran karena Allah memberikan
cobaan kepada hambanya sesuai dengan kemampuannya. Selain itu, barang siapa yang
mampu menghadapi ujian dengan sabar akan ditingkatkan kualitas manusia itu.
c. Penentram Batin, Jika orang yang tidak percaya
akan kebesaran tuhan tak peduli orang itu kaya apalagi miskin pasti akan selalu
merasa gelisah. Orang yang kaya takut akan kehilangan harta kekayaannya yang
akan habis atau dicuri oleh orang lain, orang yang miskin apalagi, selalu
merasa kurang bahkan cenderung tidak mensyukuri hidup. Lain halnya dengan orang
yang beriman, orang kaya yang beriman tebal tidak akan gelisah memikirkan harta
kekayaannya. Dalam ajaran Islam harta kekayaan itu merupakan titipan Allah yang
didalamnya terdapat hak orang-orang miskin dan anak yatim piatu. Bahkan
sewaktu-waktu bisa diambil oleh yang maha berkehendak, tidak mungkin gelisah.
Begitu juga dengan orang yang miskin yang beriman, batinnya akan selalu tentram
karena setiap yang terjadi dalam hidupnya merupakan ketetapan Allah dan yang
membedakan derajat manusia dimata Allah bukanlah hartanya melainkan keimanan
dan ketakwaannya.
d. Pengendali Moral, Setiap manusia yang beragama
yang beriman akan menjalankan setiap ajaran agamanya. Terlebih dalam ajaran
Islam, akhlak amat sangat diperhatikan dan di junjung tinggi dalam Islam.
Pelajaran moral dalam Islam sangatlah tinggi, dalam Islam diajarkan untuk menghormati
orang lain, akan tetapi sama sekali tidak diperintah untuk meminta dihormati.
Islam mengatur hubungan orang tua dan anak dengan begitu indah.
Dalam Al-Qur’an ada ayat yang berbunyi: “dan jangan kau ucapkan kepada kedua
(orang tuamu) uf!!” Tidak ada ayat yang memerintahkan kepada manusia (orang
tua) untuk minta dihormati kepada anak. Selain itu Islam juga mengatur semua
hal yang berkaitan dengan moral, mulai dari berpakaian, berperilaku, bertutur
kata hubungan manusia dengan manusia lain (hablum minannas atau hubungan
sosial). Termasuk di dalamnya harus jujur, jika seorang berkata bohong maka dia
akan disiksa oleh api neraka. Ini hanya contoh kecil peraturan Islam yang
berkaitan dengan moral. Masih banyak lagi aturan Islam yang berkaitan dengan
tatanan perilaku moral yang baik, namun tidak dapat sepenuhnya dituliskan
disini.
C. Nilai-nilai
Agama dalam Kehidupan Manusia
Agama memiliki
nilai-nilai yang sangat berperan penting dalam berbagai aktivitas maupun
keseharian manusia karena dapat membantu dan menjadi pedoman dalam menjalankan
keseharian. Beberapa peran agama dalam kehidupan diantaranya adalah dalam
lingkungan, pekerjaan, pendidikan, dan keluarga. Kita perlu menanamkan
nilai-nilai Agama Islam sejak dini.
a) Pekerjaan
Islam menyuruh umatnya untuk bekerja
kerjas dengan diikuti oleh berbagai perangkat pengamannya seperti nilai-nilai
moral, yaitu akhlaq atau etika. Akhlaq ini dapat mengantarkan berbagai profesi
dengan selamat mencapai tujuanya berupa ibadah yang ikhlas kepada Allah “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat
pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orangorang mukminin, dan kamu akan
dikembalikan kepada Allah yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu
diberitakan kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (Q.S. At-Taubah, 105). Sistem kepercayaan yang ditanam dalam etos kerja
merupakan implementasi dari sifat Rasulullah yaitu siddiq (jujur) dalam
melakukan pekerjaannya, serta bagaimana keinginan karyawan untuk mencari rezeki
yang halal selain itu juga diharapkan untuk dijadikan syarat ibadah.
b) Pendidikan
Penanaman nilai-nilai agama
sangat penting bagi bangsa Indonesia termasuk pendidikan agama Islam itu
sendiri. Peserta didik harus memiliki akhlak yang mulia sesuai dengan agama
yang dianutnya. Dengan tercapainya tujuan pendidikan tersebut, sudah dapat
dipastikan bahwa setiap peserta didik memiliki akhlak yang baik sesuai dengan
ajaran agama. Penanaman nilai-nilai keagamaan yakni dilakukan dengan cara
menanamkan pengetahuan yang berlandaskan pada wahyu Allah SWT dengan tujuan
agar anak mampu mengemalkan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari dengan
baik dan benar secara sadar tanpa adanya paksaan. Penanaman nilai-nilai
keagamaan dalam pendidikan bisa dilakukan melalui beberapa metode yaitu: metode
keteladanan, metode pembiasaan, metode nasehat dan memberi perhatian, dan
metode hukuman. Semua metode tersebut bisa diaplikasikan dalam kegiatan berupa
sholat dhuha, sholat dzhuhur berjamaah, sholat jumat, tadaru Al-Qur’an, infaq
di hari jumat, dan peringatan hari-hari besar Islam.
c) Keluarga
Peran
orang tua tidak hanya berupa pengajaran tetapi berupa peran tingkah laku,
keteladanan dan pola-pola hubungannya dengan anak yang dijiwai dan disemangati
oleh nilai-nilai keagamaan yang menyeluruh. Pendidikan dengan bahasa
perbuatan atau perilaku (tarbiyah bi lisan-I-lhal), untuk anak
lebih efektif dan lebih mantap daripada pendidikan dengan bahasa ucapan (tarbiyah
bi lisan-il-maqal). Orang tua juga memiliki andil untuk menanamkan
nilai-niali keagamaan kepada anak berupa penanaman taqwa kepada Allah dan
pengembangan rasa kemanusiaan kepada sesama. Kegiatan menanamkan nilai-nilai
kegamaan sesungguhnya akan menjadi inti pendidikan keagamaan. Nilai yang sangat
mendasar diantaranya, iman, Islam, Ihsan, Taqwa, Ikhlas, Syukur, dan Sabar. Dalam
menanamkan kepercayaan itu, maka orang tua sebagai pendidik di dalam rumah
tangga memiliki tanggungjawab yang berat agar membimbing dan mengarahkan anak
melalui berbagai upaya dan pendekatan agar sejak dini anak sudah memiliki
keyakinan yang jelas terhadap agamanya. Penanaman keyakinan terhadap akidah
agama Islam terhadap anak tidak hanya menjadi pengetahuan semata, akan tetapi
nilai-nilai akidah tersebut dapat diimplementasikan oleh anak dalam kehidupan
sehari-hari.
D. Ta’abbudi
dan Ta’aquli
Menjaga
keimanan merupakan tugas pokok seseorang yang beragama. Sekaligus
menuntut dirinya untuk selalu menebar hal-hal positif bagi lingkungannya.
Untuk mencapai derajat insan kamil, beragama ideal mensyaratkan keseimbangan
antara ta'abbudi dan ta'aqquli.
Kata ta‘abbud bersumber dari akar kata (derivat) ‘abd dan ‘ubudiyyah yang
bermakna ibadah dan penghambaan. Dalam riwayat juga disebutkan
dengan makna yang sama. Para juris dan ahli syariat menggunakan makna ta’abbud dalam
beberapa makna lain. Salah satu hal yang di dalamnya menggunakan term ta’abbud adalah
sesuatu yang tidak memerlukan dalil.
Prinsip-prinsip agama dan akidah setiap orang harus berdasarkan dalil.
Namun dalam hal-hal cabang (furu’) telah memadai apabila disebutkan bahwa hukum
tersebut bersumber dari Allah Swt dan tidak memerlukan riset, nalar, mengetahui
sebab dan falsafahnya. Terkadang kita ditanya tentang mengapa salat Subuh itu
harus dikerjakan sebanyak dua rakaat? Dalam menjawab pertanyaan ini kita
berkata bahwa masalah ini adalah masalah ta’abbudi (harus kita terima dan tidak
memerlukan penalaran).
Sedangkan ta’aquli adlah segala ketentuan hukum Islam
ketentuan nas (al-Qur’an dan Hadis) yang diterima dan ditaati oleh seorang
hamba karena ada maslahatnya bagi manusia berdasarkan nalar rasio manusia
selaras dengan kemaslahatan dalam kehidupan manusia di dunia.
E. Kesimpulan
Agama merupakan suatu
kebutuhan yang teramat sangat penting bagi manusia, disadari atau tidak, setiap
manusia pasti membutuhkan agama. manusia merupakan manusia yang lemah. ini
terbukti dengan akal manusia yang terbatas. sehingga setiap manusia membutuhkan
dzat yang maha segala-galanya untuk dijadikan sebagai tempat untuk mengadu
segala kegelisahannya. agama islam adalah agama penyempurna agama-agama
terdahulu. sumbersumber hukum islam adalah Al quran, al hadits, dan al ijtihad.
Pada zaman globalisasi sekarang ini, terutama dengan adanya kemajuan teknologi
informatika, moral manusia semakin hari semakin memprihatinkan. Pada kondisi
zaman seperti ini manusia akan meninggalkan para ulama sebagai tempat untuk
memetik ilmu. Hal ini dikarenakan hal-hal yang menjadi permasalahan dapat
ditemukan jalan keluar dengan secara tepat. Namun yang perlu disadari adalah
tidak selamanya bahan yang diakses itu adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan,
karena tidak menutup kemungkinan para pembuat situs-situs adalah orang-orang
yang hendak menyesatkan umat Islam. Sehingga sangat penting untuk kita hidup
berpedoman dengan agama agar tidak mudah tersesat.
Disusun oleh Dinda Triana (1305619026) mahasiswa Program Studi Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Jakarta. Artikel ini dibuat guna memenuhi Tugas Ujian Tengah Semester Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam yang diampu oleh Dosen Bapak Suyuti, M.Pd.


Komentar
Posting Komentar